Guru di Kepulauan Bagaimana Kabarnya?

Dhafir Munawar Sadat

Oleh : Dhafir Munawar Sadat
Alumni Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep Madura

Akhir-akhir ini Indonesia dalam masa-masa dimana para stekholdernya disibukkan dengan slogan kerja-kerja-kerjanya, dari presiden disamping sebagai kepala negara juga calon kepala negara harus betul-betul bisa membagi waktu, mana tugas negara, mana tugas pribadiny, para menteri disibukkan dengan mengejar target agenda kerjanya, mereka harus menunjukkan raport positif menjelang pilpres 2019, beruntung bagi mereka yang masih terpilih dan musibah bagi mereka yang tidak terpilih lagi, para dewan baik pusat, provinsi dan daerah semuanya berjibaku untuk terpilih lagi guna menduduki kursi empuk dewwan yang terhormat, bersyukur bagi mereka yang terpilih lagi, semaput bagi mereka yang tidak terpilih, dan selamat bagi mereka yang baru terplih, semoga jujur dan amanah.

Beberapa bulan yang lalu pemerintah merilis CPNS, sudah beribu-ribu masyarakat yang mendaftar, senusantara merebutkan kuota yang sudah ditentukan, ada yang butuh 10 pegawai, ada yang 5, juga ada yang 1 diperbutkan beribu-ribu pendaftar, semoga ini tidak menjadi ajang kampanye, menghindari arro’syi wal murtasyi,biasanya berawal dari ini muncul sifat tamak manusia, segala cara dipakai, yang sehat jadi sakit, yang sakit jadi sehat, yang alim jadi lalim, yang lalim jadi alim, manusia di uji dengan berbagai ujian,termasuk ujian CPNS ini, semoga itu bukan janji-janji kosong belaka karna mendekati tahun demokrasi, positive tinking.

Diatas hanya bentuk ilustrasi semata, yang lebih dari itu adalah bagaimana perhatian pemerintah terhadap guru honorer atau guru sukwan yang ada di kepulauan, kita merasa terpanggil, tersentuh hatinya melihat mereka dari kepulauan jauh dari kabupaten, menaiki kapal, berbantalkan  ombak berselimutkan angin hanya untuk tastes tus ini, kadang kalau ada UKG, dan UK,UK yang lain, butuh modal banyak, modal tenaga, modal duit itu pasti, terutama modal kesehatan, hanya untuk beberapa jam didepan computer, setelah itu balik lagi, duit lagi, berbantal ombak berselimut angin lagi, luar biasa pengorbanan guru honorer dan sukwan kepulauan ini.

Seharusnya pemerintah melihat ini, ajak para bupati, rembuk dengan dewan, ajak tokoh masyarakatnya tokoh pemudanya, dengarkan suara mereka, apa yang terjadi sebenarnya, realitanya, kepastian dan kenyataannya, turun ke masyarakat, bukan hanya duduk manis dengarkan laporan via WA, itu dulu jaman jahiliyah bung, tiru bagaimana Umar bin Khatthab memimpin, beliau turun tangan langsung menyaksikan rakyatnya, menggotong beras sendiri, kenapa terjadi gempa, mungkin salah satunya karena diskriminasi, ketidak adilan penguasanya, itu juga termasuk maksiat nafsu angkara, mungkin doa para honorer yang dikepuluan hususnya  didengar sama yang maha kuasa, berapa banyak guru honorer, guru bantu yang tidak di angkat angkat, kalau mereka seluruh Indonesia berdoa bisa jadi akan datang gempa-gempa yang lain, whay not? Namun kita hanya bisa berdo’a semoga dijauhi dari itu semua, mungkin pemerintah ada jalan lain, mungkin pemerintah masih nunggu waktu, tapi when?

Solusinya, Angkatlah mereka mereka jadi PNS, atau penuhi hak mereka setara dengan PNS, mereka hanya mau itu,lihat perjuangan mereka, mengarungi samudra antara hidup dan mati, bayangkan seandainya itu terjadi sama keluarga para menteri, para dewan,keluarga gubernur, keluarga bupati umpama, mereka akan merasakan perjuangan yang sebenarnya dalam mentukan masa depan anak bangsa,mereka manusia, mereka punyak keluarga, mereka ingin hidup layak, ingin hidup lebih, apa salahnya, mereka sudah melaksanakan kewajibaannya sebagai guru, dan itu tugas negara untuk mensejahterakan mereka.

Rasanya ini terjadi disemua kepulauan yang ada di Nusantara Indonesia ini, sudah lama mereka menunggu kabar baik, sudah lama mereka menuggu kapan diangkat, sudah lama meraka wira-wiri dari pulau ke kabupaten,butuh waktu lama loe, kepala pusing, mual, mabuk berada diatas kapal,  jenuh bagi mereka ketika harus dan harus berangkat ke daratan, bolak-balik meningglkan keluarga, hanya untuk sesuatu yang tak jelas, tak kunjung datang, ini terjadi pada semua honorer-honorer yang lain, mari bicara fakta dan realita biar semua nyata, terbuka tanpa terpaksa dan akhirnya diterima dengan lapang dada.

Semoga tulisan ini menjadi beban moral, dan membuka mata hati dan batin mereka yang diatas sana para penguasa jabatan di negeri nusantara ini , inilah realita yang sebenarnya di bawah, dan sangat bawah ini, yang belum tersentuh sama sekali dan mengubah menjadi tawa riang dan penyemangat bagi guru untuk tidak bosen mendidik anak didiknya dan lebih baik, lebih-lebih ketika hak-haknya terpenuhi, Amien…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here