Gubernur Jatim Buka Pertemuan Tahunan Pelaku Industri Jasa Keuangan 2016

Pertemuan Tahunan Pelaku Industri Jasa Keuangan 2016

Reporter : Adhi

Surabaya, Suara Indonesia-News.Com – Jatim merupakan provinsi yang tepat untuk mengembangkan industri jasa keuangan. Hal tersebut bisa dilihat dari pertumbuhan ekonomi dan kondisi makro ekonomi Jatim yang setiap tahunnya mengalami peningkatan.

Demikian disampaikan Dr. H. Soekarwo Gubernur Jatim, pada acara Pertemuan Tahunan Pelaku Industri Jasa Keuangan 2016 bertemakan “Mendorong Pertumbuhan dan Meningkatkan Daya Saing Dalam Era Masyarakat Ekonomi ASEAN” di Hotel Shangri-La, Surabaya, Kamis (25/2/2016).

Menurut Dr. H. Soekarwo, pertumbuhan ekonomi Jatim selalu diatas rata-rata nasional.  Pada tahun 2015 pertumbuhan ekonomi Jatim sebesar 5,44 persen, sedangkan nasional 4,79 persen. Hal yang tidak kalah hebatnya adalah share Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jatim terhadap nasional pada tahu 2015 sebesar 14,64 persen. PDRB Jatim sebesar  1.689,88 triliun rupiah,  sedangkan nasional 11.540,80 triliun rupiah. Kinerja perdagangan Jatim juga sangat bagus. Nilai ekspor luar negeri (non migas) tanpa jasa pada tahun 2015 surplus sebesar 846,461 juta USD.

“Dengan capaian yang bagus seperti itu Jatim layak untuk menjadi destinasi dalam mengembangkan industri jasa keuangan. Pada tahun 2016 saat yang tepat untuk berinvestasi di Jatim,” jelas Pakde Karwo sapaan lekatnya.

Salah satu sektor yang bisa menjadi pengembang industri jasa keuangan adalah  industri pengolahan yang memberikan sumbangan terbesar bagi PDRB Jatim yakni  sebesar 29,27 persen. Namun industri pengolahan masih memerlukan sentuhan dan dukungan dari industri jasa keuangan.

Sementara itu, Nelson Tampubolon Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan, menuturkan, perlambatan ekonomi domestik dan global berimbas pada penurunan kinerja industri keuangan. Akan tetapi, pada tahun 2015 telah mampu dilewati dengan tingkat ketahanan ekonomi dan industri jasa keuangan yang baik.

“Keberhasilan yang dicapai pada tahun 2015 tidak lepas dari berbagai upaya dan sinergi yang dilakukan pemerintah, otoritas, dan industri dalam memitigasi berbagai resiko yang dihadapi,” ucap Nelson.

Pada tahun 2016, OJK telah mengeluarkan rangkaian paket kebijakan yang fokus pada peningkatan pendanaan lembaga jasa keuangan (LJK) untuk UMKM dan pembiayaan perumahan. Selain itu, OJK juga mengeluarkan beberapa kebijakan guna merespon gejolak yang terjadi di pasar keuangan terutama untuk mengembalikan kepercayaan pelaku pasar.

Pada kesempatan yang lain, Sukamto Kepala Regional 3 OJK menyampaikan selama tahun 2015, perekonomian dan industri keuangan di Jatim mencatatkan kinerja positif. Ekonomi Jatim mampu tumbuh sebesar 5,44 persen melebihi pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sebesar 4,79 persen dengan kontribusi output ekonomi Jatim terhadap output ekonomi nasional mencapai 14,83 persen.

“Perkembangan kinerja perbankan di Jatim dinilai masih mampu tumbuh ditengah perlambatan ekonomi global,” jelas Sukamto.

Pertemuan Tahunan  Pelaku Industri Jasa Keuangan 2016 merupakan wujud akuntabilitas, kecintaan, dan wadah bagi OJK bersama seluruh pelaku usaha LJK di Jatim untuk mengevealuasi kinerja dan menetapkan langkah strategis kedepannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here