Wakil Ketua Umum Gerindra FX. Arif Poyuono : Presiden Jangan Diamkan Penzoliman Wartawan

Wakil Ketua Umum Gerindra, FX. Arif Poyuono

Reporter : Hasan

Jakarta, Suara Indonesia-News.Com – Pekerja Media atau Wartawan merupakan kekuatan pilar keempat dalam negara yang menganut sistim Demokrasi diluar tiga pilar lainnya seperti Eksekutive, Legislative dan Yudikatif, Jokowi sendiri lahir sebagai Pemimpin nasional dibesarkan oleh media hingga oleh para Pekerja media, Jokowi menjadi media Darling.

Namun nasib Wartawan dan pekerja media lagi-lagi mengalami penzoliman oleh perusahaan tempat bekerjanya. Kali ini giliran 18 pekerja Kompas Gramedia yang mengalami pemecatan secara sepihak. Pemerintahan Joko Widodo yang banyak dibantu oleh wartawan seharusnya mulai memberikan perhatian pada nasib pekerja media yang kerap mengalami penzoliman oleh perusahaannya sendiri. Hal ini ditegaskan oleh Wakil Ketua Umum Gerindra, FX. Arif Poyuono kepada Pers Jumat (18/12/2015).

“Belakangan ini terjadi peningkatan penzoliman pada wartawan dan pekerja media lainnya. Pemerintah Jokowi yang sudah banyak dibantu oleh wartawan tidak boleh mendiamkan hal ini terjadi pada pekerja media.” ujarnya.

Selama ini menurutnya perusahaan media menempatkan wartawan sama dengan buruh pabrik dan dengan mudah dilakukan pemutusan hubungan kerja secara sepihak.

“Padahal media massa adalah pilar ke empat dalam demokrasi. Apa jadinya kalau perusahaan-perusahaan media justru memperlakukan wartawan dan pekerja media secara sewenang-wenang,” ujarnya.

FX. Arif Poyuono juga Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu  menyoroti pemecatan para 18 wartawan dan pekerja media dalam perusahaan Kompas Gramedia yang terjadi bekalangan ini. Menurutnya, Yakob Utama sebagai pemilik Kompas Gramedia tidak boleh melakukan pekerjanya secara zolim.

“Wartawan bekerja siang malam dibalas dengan pemecatan sepihak. Kompas telah melanggar hak azasi wartawan. Pak Yakob Utama jangan tutup mata terhadap ketidak adilan pada wartawannya, tolong perhatikan nasib para pekerjanya.” tegasnya.

 Beberapa orang yang di PHK oleh Kompas Gramedia diantaranya dari Tabloid Bola Roosyudhi Priyanto, Rahayu Widiarti, Josep Lopiwudhi, Simon Hutagalung, Asep Lesmana, Ary Julianto, Caesar Sardi, Arief Natakusumah, Sigit, Syahrul Ramadhan, Ahmad Hamzah, Windra, Puri Purini, Hadi Prasetyawan, Gusti Watodey. Sedangkan dari Kompas TV adalah Ryan Suryalibrata, Igbal dan Fadhila Tanpa kompensasi yang pantas

Ia juga meminta agar Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri tidak diam terhadap nasib para pekerja media dan wartawan yang sudah banyak membantu dirinya dalam sosialisasi program-program Kementerian Tenaga Kerja.Dan kalau tidak sanggup melindungi Pekerja media /Wartawan sebaiknya Jokowi Pecat saja Menaker

Begitu juga dengan Jokowi yang seharusnya bisa memberikan sebuah kebijakan yang bisa melindungi keselamatan dan tingkat kesejahteraan para Pekerja media atau Wartawan ,sebab Jokowi Harus ingat bahwa tanpa mereka Jokowi is Nothing.

Ia memberikan contoh nasib puluhan wartawan Sinar Harapan yang berada di daerah yang tidak mendapatkan sepeserpun kompensasi padahal koran Sinar Harapan akan tutup per 1 Januari 2015.

 “Alasan Sinar Harapan bahwa mereka hanya kontributor dan koresponden merupakan manipulasi untuk tidak membayar kewajiban perusahaan terhadap wartawan daerah yang sudah belasan tahun mengabdi pada masyarakat, bangsa dan negara. Bukan hanya pada Koran Sinar Harapan.” paparnya.

 Ia menjelaskan bahwa laporan dari serikat pekerja Sinar Harapan selama ini wartawan daerah Sinar Harapan bekerja tanpa kontrak kerja yang jelas dan sudha dibayar minim yaitu Rp 350.000-Rp 750.000/bulan.

 “Sinar Harapan yang selama ini katanya memperjuangkan kasih dan keadilan ternyata zolim terhadap wartawan dan pekerjanya sendiri. Kelakuan direksi Sinar Harapan hanya mencoreng nama baik investor Sinar Harapan Sjamsul Nursalim.” tutupnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here