Firman Soebagyo; Prioritaskan Tepung Tapioka Produk Dalam Negri di Banding Produk Impor

Tengah, Firman Soebagyo

BLORA, Minggu (16 Juli 2017) suaraindonesia-news.com – Menindak lanjuti instruksi Wapres HM. Jusuf Kalla pada Kementrian Perindustrian, Perdagangan dan Pertanian atas dasar surat aspirasi. Pihaknya sebagai anggota DPR RI dimana agar kementrian terkait dapat mengatur dan memprioritaskan tepung tapioka produk dalam negeri/ petani lokal dibanding dengan produk import.

“Kemarin (14/7) saya ditemui Paguyuban Pengolah Singkong Pati (PPSP) serta melihat kondisi aktual yang terjadi di sentra pengolahan singkong di Desa Ngemplak Kidul, Kecamatan Margoyoso Pati,” kata Firman Soebagyo, anggota DPR RI periode 2009-2014 dari fraksi Golkar mewakili wilayah Jawa Tengah.

Firman Soebagyo merupakan Wakil Ketua Komisi IV yang menangani Pertanian, Kelautan, Bulog dan Kehutanan. Minggu 16 Juli 2017 pukul 14.30.Wib Melalui Kontak personnya.

Sementara itu Firman menyampaikan Sentra Industri tepung tapioka di Margoyoso memiliki luas lahan ketela 18.259 hektar dengan tingkat produktivitas 217,70 kwintal per hektar, dengan total produksi basah dengan kulitnya 397.498 ton.

Ketika ditemui Firman Ketua Paguyuban Pengolah Singkong Pati Mashuri Cahyadi mengatakan, Potensi Produksi tepung tapioka PPSP sangat besar namun masih terkendali pasar karena industri besar yang berbahan baku tepung tapioka tidak mau menyerap hasil olahan petani lokal.

“Hal ini terjadi karena PPSP hanya dapat memasok ke sektor makanan tradisional rakyat dan industri kecil. Sedangkan kebutuhan terbesar tepung tapioka adalah di Industri besar seperti,” sambungnya.

Menurutnya, Industri Kertas, M sebagai bahan penolong perekatan pulp. Sedangkan Industri Penyedap Rasa (MSG), sebagai bahan baku pembuatan MSG. Dan Industri Sorbitol, Dextrin, Amilum dll sebagai bahan baku. Sementara, Industri HFS (High Fructose Syrup), sebagai bahan baku pembuatan pemanis dalam industri minuman dan permen.

“Ketiadaan Jaminan Pembelian tepung tapioka dari Industri Besar sebagai bahan baku menjadi penghambat utama bagi mereka,” ungkapnya.

Banyak pabrik industri kertas dan industri bumbu dan pakan ternak menggunakan tepung tapioka dalam skala sangat besar. Darimana pabrik tersebut mendapatkan pasokan? jawabannya adalah Import dari beberapa negara ASEAN yaitu Thailand dan Vietnam. Jika memang alasan mereka adalah jaminan stock, maka PPSP siap membangun gudang penampung yang besar, dan jika alasannya adalah spesifikasi maka PPSP siap membangun mesin Oven dengan syarat adanya Kontrak Kerjasama Jaminan Pembelian.

“Saya akan menyarankan kepada Pabrik-Pabrik Industri Besar untukm membeli produk yang dihasilkan PPSP dengan target 10.000 ton perbulan. Karena hal tersebut akan menumbuhkan industri kecil di Kabupaten Pati dan menciptakan lapangan kerja,” pungkasnya (Lukman).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here