Dosen FISIP Universitas Jember: Munir Sang Aktivis HAM Tak Pernah Mati

oleh -47 views
Foto: Suciwati, istri Munir (paling kanan) dalam acara diskusi bertajuk Mengenang Munir. (Foto : Istimewa)

JEMBER, Kamis (21 September 2017) suaraindonesia-news.com – Gedung Yayasan Bina Insani (YABINA) yang terletak di Jl. Mastrip, Jember menjadi saksi bisu tersebarnya semangat perjuangan Munir, kepada para aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Fisipol UNEJ dalam sebuah Diskusi yang bertajuk Mengenang Munir, Kamis (21/9) pagi.

“Munir belum mati, Munir hidup dan akan terus hidup ketika perjuangannya masih dilanjutkan generasi bangsa, berjuang untuk Hak Asasi Manusia (HAM),” ucap Dosen FISIP Universitas Jember, yang juga mantan aktivis HMI Komisariat FISIP UNEJ, Kris Hendrijianto.

Sontak pernyataan Seorang Kris Hendrijianto menyulut api semangat perjuangan Munir kepada para aktivis HMI yang hadir saat itu.

HMI adalah tempat seorang Munir berproses ketika menjadi mahasiswa, oleh karenanya perjuangan Munir perlu ditularkan kepada para aktivis mahasiswa HMI.

Suciwati, istri Munir yang hadir dalam diskusi ini menceritakan bahwa Munir adalah sosok pemberani, tak terhitung fitnah demi fitnah ditudingkan kepada suaminya, tentunya fitnah pesanan yang didanai oleh kelompok pesanan.

“Munir HMI, tentu jelas Islam, tapi saat shalat Jumat, Munir difitnah penceramah seorang komunis,” ucap Suciwati.

Meskipun demikian, lanjut Suciwati, Munir tak mau pensiun jadi aktivis pembela kaum tertindas.

“Sebab Munir berkata, mundur jadi aktivis sama dengan hidup tapi mati,” tambahnya.

Suciwati berharap kepada adik-adik Munir di HMI, harus melanjutkan perjuangan Munir membela kaum marginal, karena mereka di saat tertindas, tak tahu cara bagaimana memperjuangkan dirinya sendiri.

“Sedangkan mahasiswa dan aktivis punya ilmu yang perlu diamalkan,” pesannya. (Guntur)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *