Degradasi Pendidikan, Degradasi Kepemimpinan

Dhafir Munawar Sadat

Oleh : Dhafir Munawar Sadat
Alumni Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep Madura

Melihat fenomena yang terjadi belakangan ini di Indonesia, baik fonemena yang berhubungan dengan pendidikan, kepemimpinan rasanya mau teriak sekencang-kencangnya mau ngumpat, mau misu, mau marah, tapi kepada siapa harus mengadu, apa gunanya, hanya bikin sakit, sakit hati, karena penuh emosi.

Pendidikan merupakan jiiwa perjalanan sebuah negara atau bangsa, negara makmur, negara yang maju adalah negara yang mengedepankan pendidikan, dalam artian pendidikan diatas segala–galanya, sama seperti lagu Indonesia Raya, ”bangunlah jiwanya bangunlah badannya” Ingat yang dilakukan Malaysia ditahun 70 an, Malaysia mengimpor guru dari Indonesia untuk mendidik anak negri nya, jangan lupa pada saat Jepang diluluh lantakkan oleh bom atom di tahun 1945 yang mereka tanyakan : “Berapa jumlah guru yang selamat?” Mengapa? Karena mereka sadar bahwa guru dibutuhkan sangat diperlukan untuk membangkitkan pendidikan di negerinya, Mereka sadar bahwa PENDIDIKAN adalah JIWA suatu Negara atau bangsa. Manakala pendidikannya bagus, tidak pelak lagi kebangkitan bangsa dijamin kelangsungan dan keberlanjutannya penuh innovative dan selalu ada solusi dalam setiap permasalahan yang terjadi di negeri itu sendiri. Saat pendidikan terabaikan, saat pendikan di nomor sekiankan, saat itu juga kehancuran bakal dialami bangsa tersebut, fantadirissaah.

Dalam sejarah perjalanan bangsa ini, Indonesia tidak luput dengan namanya ulama dan pesantrennya, inilah yang membela bangsa ini mati-matian, dengan beribu-ribu santrinya berkorban demi tanah airnya karna bagi mereka memebela tanah air adalah sebagaian dari iman (Hubbul Wathon Minal Iman).

Apakah mereka ulama-ulama, santri dan para pejuang lainnya mengharap imbalan, apakah mereka mintak dihormati, apakah mereka hanya sekedar modus, apakah mereka mengharap medali, NO, semuanya NO, karena dalam jiwanya tertanam kuat jiwa Ke Ikhlasan, Kesederhanaan, Berdikari, Ukhuwah dan betul-betul terpatri kokoh dalam hati sanubarinya.
Itulah out put pendidian ke ikhlasan. Berbeda jauh dengan jaman NOW yang semuanya serba fulus, no fulus no tembus, sudah mengubah segala-galanya jiwa penuh dengan angkara duniawi, jiwa yang dulunya ikhlas berubah total menjadi jiwa-jiwa yang selalu mengharap imbalan, itu sudah menggurita disemua lini di negara kita, dan pesantren tetap eksis dengan panca jiwanya sehingga menghasilkan output-output yang siap untuk mengabdi demi bangsa dan negara. Siap Memimpin dan siap di Pimpin.

Pendidikan sudah diobok-obok, peraturan-peraturan sudah mencontoh negara-negara barat, negara-negara sekuler, alasannya biar tidak ketinggalan jaman, biar tidak katrok, zaman modernisasi, semuanya serba mesin, internet dll. Sekoah-sekolah sudah mengharuskan FINGER PRINT, bayangkan sekolah yang gurunya awalnya datang dengan penuh semangat untuk mengajar dan hanya di (gaji) maaf sebenarnya penulis tidak layak menyebut gaji, karna memang bukan itu yang diharapkan, alakadarnya disuruh finger Print, jiwa ke ikhlasannya mulai terusik, kalau perusahaan yang menerapkan Finger Print terhadap karyawannya sangat layak karena sudah UMR, lho, ini guru lho?….bukan karyawan.

Inilah yang dinamakan dengan kemunduran kempemimpinan karena dihasilkan oleh pendidikan yang berorentasi pada ke untungan, sehingga menghasilkan out put-out put yang hedonis, bukan bagaimana mengamalkan ilmunya untuk kepetingan orang banyak tapi bagimana menghasilkan ke untungan sebanyak- banyak untuk dirinya dan orang disekitarnya, naudzubillah!

Semoga kita dan pemimpin bangsa ini selalu dijaga dari segala hal-hal anasyir yang merusak anak bangsa, dan pendidikan kembali ke asal demi terwujudnya Baldatun Thoyyibatun Warabbun Ghafur, Amien………

Kraksaan, Jumat 07 September 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here