Cagar Budaya Tak Pernah Dapatkan Dana Pemeliharaan dan Perawatan, Pemerintah Tutup Mata

LUMAJANG, Selasa (27/2/2018) suaraindonesia-news.com – Sampai saat ini, beberapa cagar budaya yang dimiliki Kabupaten Lumajang tidak pernah mendapatkan kucuran dana dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang, khususnya Dinas Pariwisata Budaya (Disparbud) Kabupaten Lumajang.

Padahal, Kabupaten Lumajang sudah sering menggelar event skala besar dengan anggaran yang tidak sedikit. Seharusnya dari sekian besar dana untuk event tersebut, bisa dialokasikan untuk merawat cagar budaya yang ada di Kabupaten Lumajang.

Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Masyarakat Peduli Peninggalan Majapahit (MPPM) Timur, Mansyur Hidayat ketika ditanyai awak media menjelaskan jika, dirinya sebagai pemerhati cagar budaya di Kabupaten Lumajang, sangat menyayangkan, karena sampai sekarang belum dibentuk Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Lumajang.

“Seharusnya Tim Ahli Cagar Budaya itu dibentuk sebab Peraturan Daerah (Perda) nya sudah ada. Tinggal nanti dibuatkan Peraturan Bupati (Perbup) nya saja, baru bisa action,” jelasnya kepada media.

Seperti anggaran, kata Mansyur, jangan terlalu dihambur-hamburkan untuk event yang outputnya kurang mengena kepada cagar budaya.

“Bayangkan Rp 400 juta – Rp 1,8 milyar untuk gelaran Loemajang Tempo Doeloe, coba kalau disisihkan sedikit untuk perawatan mungkin lebih bermanfaat,” ujarnya lagi.

Sementara itu, Plt Bupati Lumajang, dr. Buntaran Supriyanto, M. Kes., juga sempat meninjau Situs Biting peninggalan Patih Nambi, di Desa Kutorenon Kecamatan Sukodono, yang beberapa waktu yang lalu, terdampak longsor erosi aliran sungai.

Baca Juga: Kejurprov Sepatu Roda Isi Lumajang, Sabet Emas Kelas Standar dan Freestyle 

Dr. Buntaran dengan tegas meminta kepada dinas terkait untuk segera mengatasinya, sehingga tidak berdampak semakin luas. Instansi terkait langsung dengan hal itu, diantaranya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lumajang, Dinas Pekerjaan Umum dan Tata ruang serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang.

Lebih lanjut, Plt Bupati menyarankan, untuk antisipasi kerusakan yang lebih parah, dengan meminta agar kawasan tersebut diberi tanda sehingga masyarakat juga tau dan ikut merawat situs tersebut.

“Saat ini pemerintah sudah menganggarkan untuk perawatan situs, namun memang belum menjadi prioritas, saya berharap ke depan Bupati Lumajang yang nantinya akan terpilih bisa membuat program dan pendanaan sehingga kebutuhan perawatan situs dapat tertangani dengan baik,” harapnya.

Namun, untuk melakukan penanganan awal, Dr Buntaran meminta Kepala Disparbud Lumajang untuk segera berkoordinasi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Jawa Timur serta Badan Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Jawa Timur agar segera direkontruksi oleh tim ahli bukan tenaga ahli.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lumajang, Deni Rokhman, AP., menjelaskan saat ini penanganan sementara masih ditangani oleh BPBD Lumajang, namun pihaknya akan segera melaporkan dan melakukan koordinasi dengan pihak terkait.

Pada saat ini masyarakat masih kurang peduli terhadap situs biting. Pemerintah juga harus melakukan sosialisasi terkait dengan keberadaan situs tersebut.

Sampai detik ini sudah ditemukan bangunan menara pengawas di setiap sebrang sungai sejumlah 6 titik, namun saat ini tersisa 2 yang salah satunya terdampak longsor. Diperkirakan usia situs sekitar 700 tahun.

Reporter : Achmad Fuad Afdlol
Editor : Agira
Publisher : Tolak Imam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here