BI Jatim Launching Inkubator Bisnis Sebagai Upaya Menggali Potensi Ekonomi Pondok Pesantren

Reporter: Cahya

Surabaya, Jumat 14/10/2016 (suaraindonesia-news.com) – Besarnya potensi kapasitas perekonomian yang dimiliki oleh Pondok Pesantren melalui kepemilikannya pada tanah yang luas dan produktif, berkembangnya teknologi, serta banyaknya jumlah santri mendorong kapabilitas pesantren untuk mendukung pengembangan ekonomi dan keuangan syariah. Namun demikian, hingga saat ini nampaknya tidak sedikit pondok pesantren yang belum sepenuhnya menyadari adanya potensi ekonomi yang dapat dioptimalkan.

Oleh karena itu, pada 11 Oktober 2016, Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur melakukan launching program inkubator bisnis pesantren berbasis syariah yang bertempat di Pondok Pesantren Sunan Drajat yang diikuti oleh 17 (tujuh belas Pondok Pesantren se Jawa Timur.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur, Benny Siswanto bersama KH. Abdul Ghofur, Pimpinan Pondok Pesantren Sunan Drajat, KH. Salahuddin Wahid, Pimpinan Pondok Pesantren Tebuireng dan KH. Hasib Wahab Hasbullah, Pimpinan Pondok Pesantren Bahrul Ulum menandatangani Pokok-Pokok Kesepakatan tentang Program Inkubator Bisnis Pesantren Berbasis Syariah yang disaksikan oleh Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf dan Wakil Bupati Lamongan, Hj Kartika Hidayati.

Pokok-Pokok Kesepakatan tentang Program Inkubator Bisnis Pesantren Berbasis Syariah bertujuan (1) memperkuat koordinasi, komunikasi dan sinergisitas dalam melaksanakan program inkubator bisnis pesantren berbasis syariah; (2) mendukung adanya peningkatan kesadaran, pengetahuan, dan motivasi para santri, alumni dan masyarakat, baik yang berada lingkungan pondok pesantren maupun masyarakat umum, dalam berwirausaha; (3) Membangun dan memperkuat basis, jaringan, dan keterkaitan bisnis antar pesantren, terutama yang berada di Jawa Timur; (4) memberikan kontribusi terhadap penciptaan wirausaha dari kalangan alumni santri dan masyarakat yang berada di lingkungan pondok pesantren; dan (5) mengembangkan rekomendasi kebijakan strategis yang dapat mendukung terakselerasinya pengembangan kewirausahaan di pondok pesantren.

Pada sambutannya, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur memaparkan bahwa program inkubator bisnis merupakan salah satu upaya nyata untuk merealisasikan potensi bisnis pesantren sehingga implementasi ekonomi syariah dapat diterapkan masyarakat Jawa Timur. Inkubator bisnis merupakan tempat yang secara khusus ditujukan untuk mendukung kelahiran hingga pengembangan bisnis baru melalui serangkaian bimbingan, pelatihan, jaringan profesional, dan bantuan dalam mengelola sekaligus memfasilitasi perolehan sumber keuangan. Program dirancang oleh Bank Indonesia Jawa Timur secara tematik dengan mengambil 3 tema, yaitu keuangan mikro syariah, agrobisnis, dan perdagangan/jasa. Ketiga tema ini diharapkan dapat mewakili sebagian besar dari potensi yang dimiliki oleh pondok pesantren Program akan berlangsung selama 3 (tiga) tahun, yang dilaksanakan bersama dengan tim pendamping yang berasal dari Universitas Airlangga dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Sebagaimana Deklarasi Surabaya1, Bank Indonesia bersama 17 pondok pesantren berkomitmen untuk mengembangkan ekonomi dan keungan syariah khususnya di Jawa timur. Hasil kajian yang dilakukan Bank Indonesia menunjukkan bahwa dari 17 pondok pesantren mitra strategis pengembangan ekonomi syariah, 6 diantaranya (35,29%) dinilai sudah memiliki bisnis yang baik dengan aset yang besar. Oleh karena itu, dalam launching Inkubator Bisnis, terdapat 3 (tiga) pondok pesantren yang menjadi pilot project yaitu Pondok Pesantren Bahrul Ulum dengan tema Keuangan Mikro Syariah, Pondok Pesantren Sunan Drajat dengan tema Agrobisnis, dan Pondok Pesantren Tebu Ireng dengan tema Perdagangan/Jasa.

Bank Indonesia Jawa Timur mengharapkan program inkubator bisnis pesantren di Jawa Timur dapat terlaksana secara optimal dan sukses, sehingga dapat direplikasi pada pondok pesantren lainnya. Hal ini merupakan upaya nyata Bank Indonesia untuk menciptakan pengembangan ekonomi dan keuangan syariah yang menyentuh sektor riil & keuangan secara seimbang, menciptakan ribuan santripreneur, dan ke depan dapat mengembalikan peran pesantren sebagai lembaga pemberdayaan ekonomi masyarakat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here