Bara JP Jatim: Jangan Degradasi Presiden Dengan Pernyataan Dukung Mendukung Cagub Jatim

Pertama dari Kiri: Gianto Wijaya foto bersama Jokowi Presiden RI pada agenda Rakornas Bara JP di Kabupaten Rote NTT (08/01/2018) (Foto: Anam/SI)

SURABAYA, Kamis (14/06/2018) suaraindonesia-news.com
– Gianto Wijaya ketua Ormas Barisan Relawan Jokowi Presiden (Bara JP) DPD Jawa Timur menyayangkan pernyataan Ketua Seknas Jokowi Jatim, Sapto Raharjanto, yang dinilai sepihak dalam mendegradasi marwah presiden Joko widodo dengan pemberian dukungan pada salah satu paslon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur yakni ‘Jokowi lebih mendukung pasangan nomor urut dua, Saifullah Yusuf (Gus Ipul)-Puti Guntur Soekarno dibandingkan pasangan Khofifah-Emil’.

Sebelumnya, Sapto mengatakan bahwa sejak Khofifah tidak lagi menjabat menteri, maka hubungan politik Jokowi dengan Khofifah sudah putus. Sementara Pada Pilkada Jatim 2018, kata Sapto, Jokowi berada di pihak Gus Ipul-Puti sedangkan Amien Rais dan Habib Rizieq berada di pihak Khofifah.

“Saya rasa statement tersebut tidak perlu ditanggapi berlebihan. Lagi pula tidak ada hubungannya Presiden dengan proses politik yang lagi bergulir. Tidak hanya di Jawa Timur, tapi di seluruh wilayah Indonesia yang tahun ini menyelenggarakan Pilkada serentak,” kata Gianto saat dikonfirmasi suaraindonesia-news.com, Rabu (13/06) malam.

Baca Juga : Bara JP Jatim Kian Konsisten Jadi Mata, Tangan, Telinga Presiden Jokowi

Menurut Gianto, satu-satunya kepentingan Presiden Jokowi dalam gelaran Pilkada serentak ini tidak lain adalah proses pilkada berjalan sesuai jadwal, aman, dan lancar. Sedangkan soal hasil, Presiden menyerahkan seluruhnya kepada rakyat agar kualitas demokrasi terus meningkat.

“Ada baiknya kita semua tetap menjaga wibawa Presiden. Jangan sebaliknya, merongrong dengan kepentingan parsial Pilkada. Saya sendiri sangat yakin Presiden Jokowi ada di posisi netral dan sangat menghormati proses demokrasi yang tengah berjalan dan tidak berniat untuk cawe-cawe,” tuturnya.

Namun jika ingin ditilik ke belakang, kata Gianto, Khofifah sendiri adalah juru bicara Jokowi-JK saat Pilpres 2014 lalu. Dipilihnya Khofifah karena memiliki rekam jejak yang baik dan sangat disegani di kancah perpolitikan nasional. Khofifah mundur sebagai Menteri Sosial dari Kabinet Kerja.

Gianto menyatakan bahwa saat kandidat masih berharap dukungan secara terbuka dari presiden merupakan suatu bentuk ketidak percayaan diri dari calon.

“Jadi biarkan tanggal 27 Juni mendatang masyarakat menentukan pilihannya. Tidak usah harus bawa-bawa nama Presiden. Pekerjaan beliau banyak dan tidak cuma mengurusi Pilkada, Ketergantungan kandidat terhadap dukungan presiden memperlihatkan lemahnya rasa percaya diri dari calon tersebut terhadap kekuatan konsepsi dan kapasitas dari pasangan maupun tim untuk mandiri dalam merebut hati dan pikiran konstituen,” imbuhnya.

Gianto berharap, persaingan dalam Pigub Jawa Timur dapat berlangsung secara sehat dengan menonjolkan prestasi serta gagasan maupun program saat kepemimpinannya nanti. Sehingga, penyelenggaraan pilkada dapat berlangsung aman dan damai.

Gianto Wijaya juga menambahkan bahwa Bara JP selama ini dipercaya oleh Jokowi sebagai benteng yang senantiasa menyuarakan kebenaran sekaligus menjadi agen perubahan diseluruh Indonesia.

Reporter : Anam
Editor : Amin
Publisher : Imam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here