Banjir di Sumenep, Siapa yang Salah?

Hairul Anwar (Pembina Asosiasi Media Online Sumenep)

Oleh : Hairul Anwar (Pembina Asosiasi Media Online Sumenep)

Susah, ya, kalau rumah kita kebanjiran, apalagi kalau sampai banjir itu menggenang begitu lama.

Sudah banyak penanda bahwa bulan ini sudah memasuki musim penghujan. Banjir adalah identitas paling mutlak musim penghujan yang hanya akan datang di tengah lingkungan alam yang semakin darurat karena alih fungsi lahan disertai permainan oknum yang memberikan ijin dengan gampang tanpa melihat aturan dengan teliti kepada para pengembang.

Akibat ijin-ijin ini, perusakan lingkungan secara diam-diam berjalan masif dan berjamaah sehingga daya dukung alam dengan pasti akan menurun drastis. Hal itu kemudian mengakibatkan terjadinya banyak bencana, dari bencana ringan, sedang, dan suatu ketika bahkan akan meningkat ke bencana yang sangat berat.

Untuk menanggulangi itu semua, diperlukan keberanian dan terobosan yang komprehensif untuk mengatasi permasalahan lingkungan yang semakin kompleks ini karena sejatinya, aturan-aturan perijinan sudah ada dengan lengkap dan yang diperlukan hanyalah aksi nyata atau taat melaksanakan Perda RT RW Kabupaten yang sudah jelas dan terang-menderang.

Aksi ambil untung sendiri tanpa memperhatikan dampak lingkungan yang mengancam masa depan sering kita jumpai saat oknum-oknum tertentu bekerja sama dengan aparat lancung. Hal seperti ini yang harus kita pelototi bersama karena isu-isu lingkungan tidak lepas dari gerakan civil society.

Banjir yang melanda ujung timur pulau Madura ini akibat curah hujan yang tinggi juga masalah lingkungan yang tidak ditata-kelola dengan baik. Oleh sebab itu, diperlukan partisipasi penuh dari masyarakat beserta pemerintah sebagai penanggung jawab kebijakan itu sendiri.

Penanganan banjir adalah penangan masalah yang harus paripurna, dimulai dari sektor hulu hingga hilir karena permasalahan ini tidak hanya bersifat parsial dan sepotong-sepotong.

Di masa yang akan datang, masalah pengelolaan sumber daya air akan semakin penting dibahas untuk diterapkan atau dijadikan prinsip bagi kehidupan masyarakat kita, terutama untuk masyarakat perkotaan.

Jika ditangani dengan baik masih terjadi bencana, maka itu sudah di luar kemampuan kita sebagai manusia. Jangan menirukan narasi pepatah hujan, air adalah berkah jika setiap tata-ruang tidak taat Perda dengan baik.

Bencana itu ibarat peyakit, ada sebab-musababnya, yang apabila tidak segara diobati atau ditanggulangi penyebabnya akan mengakibatkan penyakit atau bencana tersebut semakin parah dan menambah kompleksitas masalah dari waktu ke waktu berikutnya.

Penting bagi kita mengoreksi kembali ijin-ijin yang sudah keluar dengan tujuan untuk menanggulangi bencana-bencana di masa depan yang mungkin tidak pernah kita pikirkan sama sekali. Semua itu, tentu demi anak-cucu kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here