Asli Kelahiran Kabupaten Lebak, Eri Ngaku Lebih nyaman di Negara Jepang

Asli Kelahiran Kabupaten Lebak, Eri Ngaku Lebih nyaman di Negara Jepang

LEBAK, Jumat (18 Agustus 2017) suaraindonesia-news.com – Eri Nuryanah seorang perempuan kelahiran kabupaten Lebak, Provinsi Banten, sekarang tinggal di kota Anjo Shi Negara Jepang, kelahiran asli berjuluk Kota “Putri Multatuli” Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, itu sekarang berjuang beradaptasi di Negara Jepang.

Eri sapaan akarab Eri Nuryanah menceritakan kepada Media Suara Indonesia hidup di Negara Jepang itu bagus untuk pembelajaran hidup.

“Jadi hidup lebih disiplin, dan bisa merasakaan manfaat secara langsung. karena orang orang di Jepang patuh terhadap aturan dan aturan disana memang sangat ketat dan budaya nya masih kuat,” tuturnya.

Sehingga kita merasa aman, terlindungi, lingkungan yang bersih. Walaupun dalam aktivitas kesehariannya mungkin lebih merepotkan karena saat membuang sampah harus dipisah pisahkan, menggunakan plastik khusus dan membuang sampah harus tepat waktu dengan jadwal yang berbeda beda setiap harinya.

“Dan orang jepang malu jika membuang sampah atau meludah sembarangan, itu tidak sopan,” imbuh Wanita Berparas cantik itu.

Selain itu, peraturan mengemudi kendaraan juga sangat ketat, ada jalan khusus pejalan kaki, sepeda, kendaraan bermotor dan kendaraan mobil.

Bahkan ada jalan khusus tuna netra, dan selalu mengutamakan pejalan kaki sehingga merasa terlindungi.

“kecepatan pengemudi akan terdeteksi oleh kamera yang dipasang dijalan, jika kecepatan kita melebihi batas yang ditentukan maka kendaraan kita akan otomatis terfoto dan terekam,” papar dia.

Jika kita tidak tahu arah jalan maka tak perlu ragu untuk bertanya kepada pak polisi karena polisi tersebut akan memberitahu arah jalan bahkan dengan baik hati bisa diantar.

Saat dompet atau ponsel kita tertinggal juga jangan panik, karena jika orang jepang menemukannya biasanya mereka memberikannya ke pos polisi, dan polisi akan mengantarkan atau menghubungi pemiliknya.

Eri
Eri

Hidup di Jepang membuat diri lebih mandiri. membiasakan diri berjalan kaki atau bersepeda ketika bepergiaan sekitar satu atau dua kilometer.

Selain itu jika kita ke kota seperti tokyo, biaya parkir cukup mahal bahkan bisa mencapai 300ribu rupiah untuk biaya parkir selama 24 jam, jadi dari pada pindah pindah tempat parkir dan bayar berkali kali jadi lebih baik sekali parkir dan kemudian jalan kaki atau naik kendaraan umum seperti kereta atau bus untuk meminimalisir biaya.

Selain itu setiap musimnya banyak acara acara dan kebiasaan khusus. Misalnya musim panas ini tepat dibulan sekarang, anak anak sekolah libur panjang dan para pekerja libur satu minggu. biasanya banyak acara dan pertunjungan seperti hanabi (kembang api) semua kota merayakannya dengan hari yang berbeda beda, acara matsuri tanabata (festival tanabata), biasanya saat hanabi atau matsuri orang Jepang menggunakan pakaian tradisional seperti yukata.

“Dan untuk pertunjukan tersebut tidak dikenakan biaya karena itu sudah acara tahunan,” tegasnya.

Selain itu di musim semi kita bisa melihat bunga sakura atau nanohana tanpa biaya karena biasanya ada taman teman khusus yang ditanami bunga bunga tersebut.

Selain itu dimusim gugur kita bisa melihat keindahan momiji dan di musim dingin kita merasakan kedinginan karena suhu cuaca minus kalau ditempat saya tinggal bisa mencapai minus 5 derajat, dan perjuangan nya cukup berat.

“Saat musim dingin datang, kita harus sudah mempersiapkan diri mulai dari pakaiannya, penghangat ruangan seperti stobu atau AC hangat, obat obatan, dll. dan jangan heran tangan, bibir atau kulit kita berdarah pada saat musim dingin, itu karena cuaca yang terlalu dingin dan air yg digunakan terlalu dingin, maka gunakanlah air hangat untuk segala aktivitas seperti mencuci piring, mandi, dll,” tuturnya.

Dan satu hal yang sulit adalah karena saya orang muslim sehingga makanan halal sulit didapat jika dibandingkan di Indonesia, ada toko halal khusus tapi tidak semua kota ada, sehingga ketika bepergian selalu membawa bekal dari rumah dan dirumah pun selalu masak. Harus teliti dalam membeli makanan, melihat dulu komposisinya.

Yang membuat rindu akan indonesia adalah makanan indonesia. suara adzan, dan hari raya. Sehingga saat ada orang indonesia atau orang Jepang yang berkunjung ke indonesia ketika mereka kembali ke Jepang membawa oleh oleh untuk orang indonesia walaupun hanya bumbu bumbu masakan itu sudah sangat membahagiakan.

“Alasan hidup di Jepang sementara karena saya ikut suami saya. suami saya bekerja diperusahaan Jepang sudah menjadi pegawai tetap, tapi karena kami orang indonesia lahir di indonesia Keluarga kami di indonesia, maka suatu saat nanti kami kembali ke indonesia dan mengajukan dipindahkan bekerja di anak perusahaan Jepang di indonesia,” terangnya.

“Aktivitas saya di Jepang selain menjadi ibu rumah tangga, saya kursus bahasa Jepang dan ikut kegiatan kegiatan di “masjid nishio” Jepang bersama suami saya,” imbuhnya.

Saat bulan puasa kemarin kebetulan saya ada di indonesia karena sedang menyelesaikan tesis di pasca sarjana STIE Latansa Mashiro, sehingga saat bulan ramadhan saya dan kawan kawan yang sedang pulang ke indonesia mendapatkan amanat tentang pembagian zakat fitrah orang indonesia yang ada diJepang untuk disalurkan kepada saudara saudara muslim di indonesia, karena saya orang  Rangkasbitung, kabupaten Lebak provinsi Banten.

Sehingga saya salurkan disini Selain itu banyak orang muslim indonesia tahfiz qur’an yg menjadi imam di Jepang. Kegiatan kegiatan di masjid seperti sholat berjamaah, pengajian, ceramah, kerja bakti masjid, dan mengajari anak kecil mengaji, membuat hati orang indonesia merasa terobati ketika kami orang indonesia merasa rindu akan keluarga di indonesia, sehingga kekeluargaan kami orang indonesia di Jepang seperti keluarga dan saudara.

“Walaupun saya tinggal di anjo shi, tetap berusaha meluangkan waktu dengan teman teman orang indonesia di nishio shi. Karena orang indonesia di nishio shi cukup banyak jika dibandingkan di kota kota lain,” akunya.

Dan yang saya pahami dari orang Jepang. ketika belajar orang Jepang tidak membeda bedakan kita ini siapa, dan mereka memperlakukan dengan hak yang sama dan ingin melakukan yang terbaik. Tidak terlalu sulit bagi saya untuk beradaptasi, karena orang Jepang tidak jauh berbeda dengan orang sunda sifat dan kebiasaannya, adab sopan santunnya.

“Bahasanya pun seperti bahasa sunda, ada bahasa halus ada bahasa yg kasar jd berhati hati ketika berbicara harus disesuaikan,” terang Eri sembari menutup cerita. (Abdul kohar).

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here