46 Di Antara 358 Remaja Surabaya Cenderung Menderita Bipolar

SURABAYA, Suara Indonesia-News.Com – Gangguan kejiwaan bipolar rentan menyerang remaja perkotaan seperti Surabaya. Sebuah survei menunjukkan, 46 di antara 358 remaja Surabaya cenderung menderita bipolar.

Spesialis kesehatan jiwa dr Marga Maramis menuturkan, bipolar merupakan perubahan perasaan yang sangat ekstrem. Penderita bipolar tiba-tiba bisa merasa sedih, padahal sebelumnya merasa senang.

’’Prevalensi kejadian bipolar di masyarakat saat ini 1–3 persen,’’ ujar Marga saat konferensi pers tentang Konferensi Nasional Ke-2 Seksi Bipolar dan Gangguan Mood Lain yang dihelat pada 8–10 Oktober nanti

Dia menyayangkan mereka yang mengetahui dan mengalami gejala bipolar cenderung enggan berobat. Bahkan, jumlah mereka yang abai untuk berobat mencapai 83 persen. Padahal, jika mendapat penanganan medis, gangguan perasaan tersebut bisa teratasi.

Dia menyayangkan mereka yang mengetahui dan mengalami gejala bipolar cenderung enggan berobat. Bahkan, jumlah mereka yang abai untuk berobat mencapai 83 persen. Padahal, jika mendapat penanganan medis, gangguan perasaan tersebut bisa teratasi.

Marga juga menyebut bipolar sebagai penyakit jiwa yang spesial. Jumlah penderitanya sangat banyak. Mereka masih bisa berinteraksi dengan orang lain secara sangat wajar. ’’Sangat berbeda dengan skizofrenia yang bicaranya ngelantur,’’ ucapnya.

Marga juga menyebut bipolar sebagai penyakit jiwa yang spesial. Jumlah penderitanya sangat banyak. Mereka masih bisa berinteraksi dengan orang lain secara sangat wajar. ’’Sangat berbeda dengan skizofrenia yang bicaranya ngelantur,’’ ucapnya.

Marga mengungkapkan, bipolar akan mengganggu produktivitas kerja. Alasannya, penderita tidak bisa mengontrol perasaannya. Jika mereka sedang down, pro- duktivitas akan sangat menurun.

’’Bipolar juga bisa memicu konflik dengan orang di sekitar,’’ terangnya.

Marga mengungkapkan, bipolar akan mengganggu produktivitas kerja. Alasannya, penderita tidak bisa mengontrol perasaannya. Jika mereka sedang down, pro- duktivitas akan sangat menurun.

’’Bipolar juga bisa memicu konflik dengan orang di sekitar,’’ terangnya.

Mengenai penderitanya, Marga menjelaskan, bipolar bisa menyerang berbagai umur dan profesi. Bahkan, dia pernah menjumpai dokter jiwa yang juga menderita bipolar.

’’Saya jumpai ketika ada pertemuan di India,’’ ungkapnya.

Bipolar memang cenderung bersifat genetis. Namun, pengasuhan orang tua dan lingkungan juga bisa menjadi pemicu. Karena itu, gangguan tersebut tetap bisa diobati. Jenis terapi biasanya berupa pemberian obat. Dengan terapi, penderita bisa mengendalikan gangguannya.

Mereka yang menderita bipolar bukan berarti tidak bisa berkarya. ’’Pada pembukaan konferensi yang diadakan di Malang nanti, ada pameran batik dari penderita bipolar,’’ papar Marga.

Mereka yang menderita bipolar bukan berarti tidak bisa berkarya. ’’Pada pembukaan konferensi yang diadakan di Malang nanti, ada pameran batik dari penderita bipolar,’’ papar Marga.

Kabid Pengendalian Masyarakat Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Jawa Timur Lisa Airani menuturkan, bipolar juga telah banyak menyerang kalangan mahasiswa. Imbasnya adalah penurunan gairah dalam perkuliahan.

’’Beberapa mahasiswa malah terganjal dalam menyelesaikan skripsi karena memiliki kecenderungan bipolar,’’ ujarnya ’’Beberapa mahasiswa malah terganjal dalam menyelesaikan skripsi karena memiliki kecenderungan bipolar,’’ ujarnya.

Di tempat yang sama, spesialis kejiwaan dr Hendro Riyanto SpKJ mengungkapkan, bipolar marak mulai 2000-an. Sebelum tahun tersebut, belum banyak dokter maupun masyarakat yang peduli.

’’Belakangan ini lebih banyak penelitian soal kesehatan jiwa. Jadi, banyak metode maupun jenis baru yang ditemukan. Karena itu, dalam konferensi nanti, banyak yang dibahas dan ada untuk umum,’’ katanya. (Adhi).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here